Life Insurance Quotesal: [OPINI] KONSEKUENSI KEMANDIRIAN

Menjadi
mandiri berarti mengambil tanggung jawab penuh terhadap hidup kita. Mengambil
tanggung jawab berarti termasuk kesediaan untuk menanggung konsekuensi yang
melekat padanya.

Syarat-syarat kemandirian

Anak bungsu saya, Chikara, 4 tahun, sering
berkata seperti ini, “Saya sudah besar, jadi mau main game”.  Tapi di lain waktu,
ia berkata, “Saya masih kecil, jadi perlu digendong”. “Saya masih kecil, jadi
mau ditemani mama”. Kalau saya bertanya, “Loh… kemarin kamu bilangnya sudah
besar, kok sekarang kecil lagi?”. Maka ia akan berkata, “Saya besarnya baru sedikit”.
Begitulah Chikara.

Sebetulnya dalam hati saya berpikir, saya pun sampai
saat ini terkadang seperti Chikara. Ada tarikan ingin menjadi kecil (kurang
mandiri) dan menjadi besar (lebih mandiri). Tergantung situasi. Tapi saya sadar
bahwa menjadi mandiri atau kurang mandiri adalah pilihan. Di dalam setiap
pilihan ada konsekuensi yang melekat kepadanya. Tidak bisa ditawar, tidak bisa
ditolak. Konsekuensi datang satu paket dengan pilihannya. Seperti hukum alam.
Berjalan otomatis.

Apa sih sebetulnya kemandirian? Apakah
kemandirian berarti melakukan segala sesuatunya sendiri? Apakah kemandirian
berarti tidak membutuhkan orang lain? Apakah kemandirian berarti tidak boleh
lagi merasa kecil, sendirian, ingin ditemani, ingin didukung dan dibantu?


Menurut saya, persoalan utamanya bukan itu.
Kemandirian pertama-tama membutuhkan keputusan untuk mandiri secara mandiri.
Maksudnya, saya memutuskan sendiri untuk menjadi mandiri. Bukan karena suruhan
orang tua, bukan karena tekanan sosial, bukan karena tuntutan keadaan. Saya
menjadi mandiri karena saya menginginkannya. Yang kedua, kemandirian termasuk
kesediaan untuk menanggung konsekuensi dari kemandirian tersebut secara
mandiri. Maksudnya, saya yang memutuskan, saya mengambil tindakan dan saya
menanggung semua konsekuensinya sendiri. Bukannya, saya mengambil keputusan,
kemudian seseorang harus menanggung konsekuensi tersebut. Entah itu orang tua,
teman, anak, atau pun pihak lainnya.

Jika demikian makna kemandirian, apakah yang
kita butuhkan agar dapat mandiri?


Stephen Covey dalam bukunya Seven Habits of Highly Effective People
menyatakan bahwa setiap manusia memiliki empat anugerah kodrati, yaitu ima
jinasi, suara
hati, kesadaran diri dan kehendak bebas. Untuk menjadi mandiri, kita perlu
menggunakan keempat anugerah tersebut.


Pertama-tama, menjadi mandiri membutuhkan kita
untuk mengimajinasikan apa yang dimaksud dengan mandiri. Mandiri seperti apakah
yang kita bayangkan? Bagaimana kondisi diri kita dan sekeliling kita saat kita
menjadi mandiri? Kedua, kita perlu mendengarkan suara hati kita. Syarat agar
dapat mendengarkan suara hati secara efektif adalah kejujuran terhadap diri
sendiri. Termasuk di dalam kejujuran di sini adalah mengakui apa yang kita
rasakan, butuhkan dan inginkan. Jika kita dapat mendengarkan suara hati dengan
jujur dan mengikutinya, maka kita akan memiliki hal ketiga, yaitu kesadaran
diri. Kesadaran diri mencakup seluruh penerimaan terhadap diri sendiri,
kekuatan dan kelemahan. Mengetahui apa yang bisa dan tidak, yang perlu dan
tidak perlu untuk diri kita. Hal keempat yang dibutuhkan adalah sepenuhnya
menggunakan kehendak bebas kita untuk mengambil tindakan yang akan kita
lakukan. Bukan karena suruhan, bukan karena paksaan.


Apabila kita telah sepenuhnya menggunakan
keempat anugerah tersebut dan secara konsisten melaksanakan kehendak bebas dan
menanggung konsekuensinya, maka kita telah melakukan yang disebut Covey sebagai
proaktivitas. Proaktivitas adalah modal awal dari kemandirian.

Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
membedakan kebutuhan Chikara untuk bersama saya dengan kebutuhan saya sendiri.  Saya paham bahwa Chikara masih berada dalam
tingkatan tergantung pada saya. Jelas, saya ibunya. Saya perlu mendampinginya
sampai otak sadarnya cukup berkembang dan bisa mengambil keputusan untuk
menjadi mandiri. Tapi apakah saya mandiri?


Saya sadari, saya pun memiliki persoalan.
Persoalan yang lebih besar, bahkan. Apakah keputusan saya mendampingi Chikara
betul-betul keputusan yang mandiri? Apakah saya sungguh proaktif di dalam
menjalankan peran saya sebagai ibu? Apakah saya menjalani peran saya saat ini karena
begitulah memang tugas dan peran seorang ibu untuk anaknya yang masih kecil?
Apakah saya menjalani peran ini karena takut gunjingan tetangga yang memiliki
standar tertentu mengenai pengasuhan anak? Apakah saya menjalani peran ini
karena mengharapkan dukungan Chikara di masa tua nanti? Apakah saya takut
kehilangan Chikara? Semua itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab
untuk mengetahui apakah saya mendiri.


Ternyata menjadi mandiri bukanlah hal yang
mudah. Saya senang mendapatkan Chikara sebagai anak saya, tetapi saya juga
sering kewalahan menanggung konsekuensi sebagai ibunya. Konsekuensi-konsekuensi
tersebut umumnya terkait dengan keterbatasan sumber
daya. Salah satunya
adalah waktu.

Chikara membutuhkan waktu terfokus dari saya
untuk menemaninya. Dia tidak suka disambi. Saya punya banyak kesulitan
menyelesaikan pekerjaan selama mengasuh Chikara. Dia bukan anak yang akan diam
dan menunggu. Dia aktif mempertanyakan banyak hal dan menuntut jawaban saat itu
juga. Dia menyatakan alasan-alasan secara terbuka dan menuntut penjelasan yang
masuk akal untuk otaknya. Ia akan senang kalau memahami sesuatu dan mencapai
sesuatu. Di tengah situasi yang demikian, saya punya beberapa pilihan: 1) cari
pengasuh, 2) memaksanya diam menunggu saya menyelesaikan sesuatu, 3) membuatnya
sibuk melakukan hal yang lain, 4) membuatnya terlibat di dalam kegiatan saya. 

Menyusun
balok: salah satu kegiatan yang membuat anak sibuk. Sumber foto: koleksi
pribadi.

Pekerjaan saya bervariasi dari memasak,
mencuci, membereskan rumah, mengurus kebun, mengajar dan mengetik dengan
menggunakan komputer. Untuk empat yang pertama, Chikara dapat saya libatkan
secara aktif, asalkan ada waktu yang cukup. Asalkan standar saya mengenai
kecepatan dan kualitas hasilnya bisa dibuat lebih rendah. Sebagai contoh, ketika
memasak kue
dilakukan  bersama-sama dengan Chikara, saya
perlu merelakan bahwa akan ada hasil cetakan kuenya yang kurang rapi, belepotan
atau komposisi bahannya yang tidak presisi.
Waktu memasak kue pun bisa
jadi lebih lama daripada kalau saya
membuatnya sendiri. Tapi pembelajaran untuk Chikara dan
waktu yang kami lalui bersama jauh lebih penting daripada rasa dan bentuk
kuenya. Di sini, proses lebih penting daripada hasilnya.

Melibatkan
anak dalam kegiatan kita – penting untuk perkembangan anak.

Sumber
foto: koleksi pribadi.

Untuk dua yang terakhir, mungkin cukup sulit. Di
sini, tuntutan hasil mungkin lebih kuat daripada proses bersama anak. Dalam
situasi seperti ini, pilihan nomor satu mungkin adalah cara yang paling mudah. Saya
akan punya waktu terfokus untuk saya sendiri, dan Chikara akan main dengan
terfokus bersama pengasuh.
Namun, jika saya terlalu banyak mengambil pilihan
nomor satu ini, Chikara lalu protes, “
Tapi aku sukanya 
main sama kamu”. Hiks….
Menyenangkan dalam situasi normal, tetapi petaka
dalam kondisi deadline seabreg kegiatan.

Pilihan nomor dua kadang-kadang terjadi dalam keadaan darurat, tapi Chikara akan
cepat bosan dan kemudian melakukan hal-hal yang akhirnya menambah pekerjaan
saya tanpa dia dan
saya
sadari di awal . Misalnya mengacak-acak sesuatu yang harus saya
bereskan kemudian.
Istilah mengacak-acakpun sebetulnya perlu dipertanyakan. Mungkin istilah
tersebut tepat dari sudut pandang saya. Dari sudut pandang Chikara, mungkin
lebih tepat dikatakan sebagai mengeksplorasi benda-benda baru yang menarik
perhatiannya. Yang tanpa ia sadari benda-benda itu sebetulnya merupakan bagian
dari pekerjaan saya, bukan mainannya.

Nomor tiga bisa berjalan baik, tetapi akan
membutuhkan waktu untuk mempersiapkannya. Pertama-tama, perlu dipilih apa
kegiatan yang akan dilakukan Chikara. Kedua, perlu dibayangkan berapa lama ia
akan tahan melakukan kegiatan tersebut sendiri. Ketiga, apakah kegiatan
tersebut membutuhkan pendamping? Keempat, bahan apa saja yang diperlukan? Kapan
dan berapa lama menyiapkannya? Kelima, apakah ada akibat yang perlu saya
tanggung setelah aktivitas selesai? Misalnya beres-beres. Beres-beres artinya
pekerjaan. Pekerjaan perlu waktu untuk mengerjakannya.

Bermain:
membuat anak sibuk tetapi jangan lupa ajari ia untuk membereskannya kembali

Sumber
foto: koleksi pribadi.

Itu adalah contoh-contoh konsekuensi dari
pilihan tindakan saya nomor satu sampai empat. Tetapi semua itu adalah
konsekuensi dari pilihan saya menjadi ibunya. Kalau saya sungguh mandiri,
berarti saya dengan bahagia menanggung konsekuensi tersebut. Menjadikannya
bagian dari hidup saya.


Kesalingtergantungan – tingkatan lebih lanjut dari
kemandirian


Apabila kita telah mencapai kemandirian, maka
kita dapat melanjutkan perjalanan hidup kita menuju kesalingtergantungan.
Kesalingtergantungan hanya dapat terjadi dalam relasi dua orang yang
mandiri.  Apabila salah satu tergantung
dari yang lain, maka relasi tersebut disebut sebagai ketergantungan.
Kesalingtergantungan adalah kunci menuju sinergi. Sinergi adalah kondisi di
mana kerjasama antara sejumlah orang menghasilkan kinerja yang lebih besar dari
apabila kinerja seluruh anggota tersebut dijumlahkan. Dalam sinergi terjadi apa
yang tidak mungkin dilakukan apabila setiap orang yang berelasi berdiri
sendiri.


Di dalam kesalingtergantungan, setiap orang sebetulnya
dapat hidup secara mandiri. Masing-masing akan baik-baik saja di dalam
hidupnya. Tetapi, mereka masing-masing merasa tidak cukup dengan sekedar
baik-baik saja. Mereka haus akan capaian yang lebih besar di dalam hidup mereka
dan secara kreatif ingin mewujudkan impian tersebut. Mereka kemudian bersepakat
untuk bekerjasama untuk mencapai impian bersama secara bersama-sama. Mereka
memutuskan untuk saling membantu satu sama lain untuk mencapai impian bersama.
Mereka ada satu untuk yang lain, tetapi tetap oke apabila suatu saat yang satu
meninggalkan yang lain.


Saat ini saya dan Chikara berada dalam
hubungan di mana Chikara tergantung pada saya. Tetapi saya tahu, itu hanya
sementara. Dari waktu ke waktu
, ia akan berkembang dan menjadi lebih mandiri dalam
segala hal. Dari waktu ke waktu
, kebutuhannya akan saya akan berkurang dan ia akan
menjadi lebih sibuk dengan dunianya sendiri. Secara bertahap kami akan
mentransformasi relasi kami dari ketergantungan menjadi kesalingtergantungan.
Saya membayangkan sekitar dua puluh tahun lagi, saya dan Chikara akan melakukan
sesuatu bersama-sama sebagai dua pribadi yang mandiri. Kami akan menghasilkan
hal-hal yang luar biasa bersama-sama.

Panen wortel bersama – salah satu kegiatan yang disukai anak,

sekaligus
memberikan pengalaman tentang kemandirian dalam menghasilkan pangan.

Sumber
foto: koleksi pribadi.

Bagaimana dengan empat puluh tahun lagi? Saya
akan berusia delapan puluh enam tahun, dan Chikara empat puluh empat tahun.
Apakah saya tetap bisa mandiri? Saya berharap, ya, saya ingin tetap menjadi
orang yang mandiri. Saya ingin tetap dapat memutuskan hidup saya sendiri di
usia itu. Saya masih tetap ingin dapat menghasilkan karya dan mewujudkan
impian-impian saya. Nah, keputusan inipun ada konsekuensinya. Dan konsekuensi
ini, terkait dengan hidup saya yang sekarang. Kalau saya masih ingin berkarya
di usia delapan puluh enam tahun, maka saya perlu cukup sehat pada waktu itu.
Kalau saya mau sehat di usia tersebut, maka saya perlu menjaga kesehatan sejak
sekarang!


Jika saya ingin relasi saya dengan Chikara
adalah kesalingtergantungan di usia delapan puluh enam, maka saya punya PR
besar yang perlu saya lakukan sejak sekarang. Salah satu ciri dari kesalingtergantungan
adalah tidak ada rasa bersalah, tidak ada takut, tidak ada kuatir. Konsekuensi
dari kesalingtergantungan adalah Chikara dan saya perlu bebas dari rasa takut,
kuatir dan bersalah, jika ia memilih hidupnya sendiri dan tidak “mengurus saya”
di usia delapan puluh enam sesuai dengan standar yang berlaku di masyarakat
saat itu. Chikara perlu bebas dari semua rasa itu dan percaya bahwa saya
mendukung pilihan hidupnya dan saya akan baik-baik saja.


Nah, saya rasa ini lebih kompleks daripada
konsekuensi menjadi sehat yang saya ceritakan tadi. Untuk menjadi sehat, saya
cukup berurusan dengan diri saya sendiri. Menetapkan pilihan dan konsisten
melaksanakannya. Mentransformasi hubungan ketergantungan menjadi
salingtergantung dan mempertahankannya selama empat puluh tahun adalah sesuatu
yang luar biasa. Komitmen ini bukan hanya menya
ngkut saya, tetapi juga
Chikara dan hubungan saya dengannya. Ini akan menyangkut keputusan dan
kesadaran akan nilai-nilai yang perlu ditanamkan, kebiasaan-kebiasaan yang
perlu dibangun, pengalaman-pengalaman bersama yang membuktikan kesungguhan
relasi dan banyak lagi. Pastilah ada jatuh bangun yang perlu dilalui.
Konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada dan dijalani dengan bahagia.


Latihan kemandirian


Yang saya ceritakan di atas adalah hanyalah
satu contoh sederhana dari keputusan yang kita ambil secara mandiri. Kita dapat
membangun kemandirian mulai dari banyak hal lain. Keputusan akan makanan yang
ingin kita makan, udara yang ingin kita hirup, karya yang ingin kita hasilkan,
pasangan hidup yang hendak kita pilih, rumah yang hendak kita tinggali, kebun
yang hendak kita lihat dan banyak lagi, dan berbagai aspek kehidupan yang
hendak kita jalani. Apapun pilihannya, semoga betul-betul diputuskan secara
mandiri dan dijalani dengan penuh tanggung jawab dan sukacita.


Mulai dari satu aspek kemandirian yang kita
jalani, kemudian kita dapat memperluasnya ke aspek-aspek yang lain. Dalam
jangka panjang, akan ada lebih banyak aspek kemandirian yang dapat kita pilih
dan akhirnya, secara bertahap
, kemandirian akan menjadi bagian penting dari
kehidupan kita.

TIPS CARA PRAKTIS AGAR CEPAT MENGANTUK

Tips Cepat Mengantuk Saya termasuk salah satu orang yang susah ngantuk, bahkan kadangkala walaupun merasa ngantuk belum tentu kita langsung tertidur lelap. Kondisi ini tentunya kurang baik karena besok kita dituntut harus bangun pagi-pagi kalau tidak mau kesiangan ke...

TIPS BELANJA ANEKA OLEH-OLEH SAAT TOUR

Tips Belanja Oleh-Oleh Salah satu tradisi di masyarakat kita yang sering dilakukan saat liburan adalah melakukan perjalan/rekreasi baik bersama keluarga, teman kantor maupun para sahabat. Mungkin dari kita pernah melakukan perjalanan/Tour/Rekreasi dengan menggunakan...

TIPS CARA CERDAS MENGAMANKAN AKUN SOSIAL MEDIA

Beragam Akun Sosial Media Saat ini banyak kita lihat bahkan kita alami sendiri dimana masih banyak pengguna sosial media khususnya Facebook dan Twitter yang resah karena akunnya di hack oleh orang lain. Kondisi ini terjadi bisa karena kelalai kita atau atau niat jahat...

TIPS CARA CEPAT MENINGKATKAN TRAFIK PENGUNJUNG TOKO ONLINE

Tips Toko Online Salah satu tujuan membuka toko online adalah terjadinya penjualan atau barang yang dijual laku. Sama halnya dengan toko real, pengunjung adalah kunci terjadinya penjualan. Mempunyai toko online tanpa pengunjung tentu hal itu hanya sia-sia. Mana...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *