[MASALAH KITA] TEMAN DALAM PERUBAHAN

Oleh: Karina Adistiana
  

Beberapa tahun terakhir ini saya
tertarik pada gaya hidup zero waste.
Dimulai dari melihat video tentang Bea Johnson, seorang perempuan Prancis yang
tinggal di California dan mengadopsi gaya hidup bebas limbah sejak 2008. Ketertarikan
pada gaya hidup ini turut didorong oleh keterkejutan melihat data tentang
timbunan sampah di Indonesia. Dari web Badan Pusat Statistik, saya membaca
laporan yang menyebutkan bahwa timbunan sampah di Indonesia pada tahun 2016
tercatat sebanyak 65.200.000 ton per tahun. Timbunan ini rupanya cukup
mengagetkan bagi pemerintah mengingat kemudian di tahun 2017 pemerintah
mengeluarkan Peraturan Presiden yang menargetkan pengurangan sampah rumah
tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga sebesar 30% dan penanganan
sebesar 70% (
Sumber: www.bps.go.id). 

Saya perlu berperan dalam mengurangi
sampah dan sepertinya gaya hidup yang ditunjukkan Bea Johnson tampak sangat
mudah dilakukan. Yang penting niat dan terus mencoba. Demikian motivasi awal
saya. Akhirnya, saya pun mencoba gaya hidup ini. Saya mulai berusaha mengubah
pola konsumsi saya dalam membeli barang. Setelah mencoba beberapa waktu, saya
menemukan banyak kesulitan. Tulisan ini adalah hasil observasi terhadap proses
yang saya alami sendiri maupun melihat bagaimana teman-teman dekat mencoba gaya
hidup yang sama.
 

Tantangan awal saya dimulai dari
mencari informasi yang tepat untuk memulai gaya hidup ini. Kesalahan saya
adalah melihat grup komunitas yang sudah menjalankan gaya hidup ini secara
penuh sejak lama. Maka mulailah saya membeli barang-barang yang kira-kira
dibutuhkan berdasarkan paparan para senior di grup media sosial komunitas
tersebut. Saya ingat barang yang saya beli di awal adalah wadah plastik aneka
ukuran. Saya beli untuk mempermudah belanja di pasar agar tidak pakai kemasan.
Lalu saya juga membeli tas kain untuk mempermudah proses belanja. Waktu saya
bercerita tentang hal ini pada seorang teman, ia lalu mengingatkan untuk pakai
saja barang yang ada di rumah, dan tidak menambah sampah lain. Barulah saya
pelan-pelan merencanakan kembali proses yang sedang dijalani. 

 
Wadah plastik aneka ukuran

Tantangan lain yang saya alami
adalah ketika harus membeli aneka kebutuhan sehari-hari yang lebih ramah
lingkungan. Tak ada bulk store atau
toko yang menjual kebutuhan sehari-hari tanpa kemasan di dekat rumah saya.
Ketika saya mempertimbangkan membeli kemasan yang lebih ramah lingkungan, saya
dihadapkan pada kenyataan pahit, yaitu soal perbedaan harga yang cukup besar
pada beberapa barang. Contoh sederhana adalah ketika saya hendak membeli
mentega. Suatu hari di tahun 2017, saya melihat harga yang tertera: kemasan
sachet plastik 200 gram: Rp. 6.600; wadah plastik 250 gram: Rp. 11.100; wadah
kaleng 1 kg: Rp. 51.600; wadah kaleng 2 kg: Rp. 96.100

Sekarang bayangkan apabila saya butuh membeli 2
kilogram mentega, dari perhitungan ekonomi tentulah membeli kemasan sachet
plastik jauh lebih menguntungkan dibandingkan membeli wadah kaleng. Harganya
hampir 1,5 kali lipat. Mau tak mau saya jadi lebih memperhatikan perbedaan
harga ini pada aneka barang. Saat bercakap-cakap dengan beberapa teman, saya
mendapat info bahwa teman-teman saya lebih senang membeli beragam kebutuhan
dalam bentuk sachet dengan berbagai alasan. Lebih hemat, makan tempat lebih
sedikit, dan lain-lain. Selain urusan harga, kemasan besar justru mendorong
pemakaian lebih banyak, demikian salah satu alasan yang membuat saya tercenung.
Contohnya apa? Saya tanya pada mereka. Contohnya odol yang mulut tubenya
semakin besar seiring semakin besar pula tubenya. 

Mentega dalam kemasan

Mencoba
memisahkan sampah menjadi tantangan baru lain. Setelah berhasil mengurangi dan
memilah sampah, saya harus mengurut dada melihat sampah di truk pengangkut
sampah kembali menyatukan semua sampah yang sudah dipisahkan. Betapa senangnya
hati saya ketika muncul Bank Sampah di perumahan kami. Namun, baru beberapa
minggu beroperasi ternyata tutup. Alasannya? Diprotes warga karena bau sampah
yang menyengat. Beberapa contoh tantangan ini, ditambah dengan pesimisme akan
kebermaknaan tindakan saya terhadap berkurangnya masalah sampah di negara
tercinta membuat perlahan-lahan motivasi untuk tetap menerapkan gaya hidup zero waste mulai mengendor. Terkadang
keyakinan akan kemampuan untuk bertahan dengan gaya hidup ramah lingkungan juga
turut berkurang ketika melihat para pegiat zero
waste
yang sepertinya benar-benar bersih dari sampah dalam kehidupan
sehari-harinya. Rasanya terlalu jauh dan terlalu sulit untuk mengikuti perilaku
tersebut.

Semangat
untuk kembali menjalankan gaya hidup yang lebih sehat dan ramah lingkungan
perlahan-lahan terkumpul kembali justru karena sering bertukar pikiran dengan
dua orang kawan dekat yang juga menerapkan hal serupa. Dalam berbagai
pertemuan, kami banyak berdiskusi tentang kesulitan dan bagaimana mengatasinya.
Kami saling mengapresiasi untuk setiap kemajuan langkah yang dilakukan oleh
setiap orang. Dan terutama kami saling berbagi pengalaman, tips dan informasi
berkaitan dengan zero waste ini. Dari
diskusi-diskusi ini saya juga belajar bahwa komunitas tak selalu cocok untuk
semua orang yang baru mencoba membuat perubahan terhadap gaya hidupnya.
Terkadang semangat berbagi yang begitu menggebu di anggota komunitas justru
dapat memunculkan tekanan pada mereka yang baru mencoba dan disalahartikan
sebagai kompetisi. Persepsi ini terutama muncul karena tak selalu terlihat
proses dalam sebuah perilaku yang ditampilkan oleh anggota komunitas ketika
berbagi. Dari pengalaman awal tersebut, saya melihat bahwa teman dalam
perubahan adalah faktor yang penting. Pendekatan-pendekatan pribadi serta
contoh-contoh yang dekat dengan kondisi awal adalah hal yang terkadang menjadi
lebih efektif dalam menjaga motivasi. Peran teman dalam perubahan ini terutama
adalah untuk menjadi model bagi mereka yang baru mulai berkomitmen dalam mebuat
perubahan.

                

Dalam
bidang psikologi belajar, ada Social
Learning Theory
atau Teori Belajar Sosial yang dikemukakan oleh Albert
Bandura, seorang psikolog Kanada-Amerika yang juga menjadi profesor ilmu sosial
di Stanford University. Teori ini menyatakan bahwa seseorang bisa belajar
perilaku baru dari orang lain melalui observasi, imitasi, dan modelling. Beberapa faktor yang turut
berperan dalam pembentukan perilaku baru ini adalah karakter model (orang yang
perilakunya diobservasi), karakter pembelajar (orang yang mengamati model), dan
situasi serta reaksi terhadap perilaku yang dimunculkan. Karakter model
berkaitan dengan konsistensi model terhadap perilaku dan kedekatan dengan
pembelajar, seberapa mirip pengalaman model dengan pembelajar, seberapa mirip
latar belakang model dengan pembelajar, dan bagaimana pembelajar menghargai
model sebagai individu. Karakter pembelajar berkaitan dengan motivasi dan
perhatiannya terhadap pentingnya perilaku, dalam hal ini bagaimana ketertarikan
pembelajar terhadap perilaku sehat dan ramah lingkungan maupun zero waste. Sedangkan situasi dan reaksi
berkaitan dengan proses pembelajaran tentang perilaku. Apakah perilaku sehat
dan ramah lingkungan maupun zero waste
yang dilakukan pembelajar mendapat apresiasi atau justru sebaliknya mendapat
pandangan negatif dari orang-orang di sekitarnya, dengan kata lain, apakah
perilaku tertentu dipersepsi merugikan atau menguntungkan bagi dirinya. Pada
orang dewasa, penerapan teori belajar sosial ini tak harus dengan melihat
langsung perilaku, namun juga melalui tanya-jawab, kolaborasi, dan juga diskusi
untuk saling berbagi ilmu.

Menularkan
kesadaran akan perilaku sehat dan ramah lingkungan ataupun zero waste adalah hal yang penting. Namun semangat untuk melakukan
hal ini juga perlu diiringi dengan pemahaman akan tidak idealnya sistem
sehingga tidak empatik bila beban membuat dunia lebih baik diletakkan
sepenuhnya pada seberapa keras usaha setiap individu. Rasanya kita perlu lebih
banyak menerapkan konsep teori belajar sosial dengan memunculkan lebih banyak
model yang empatik untuk mendorong kesadaran ini dan memberi lebih banyak teman
pada mereka yang sudah memiliki motivasi awal untuk melakukan perubahan, kita
pun juga perlu menjadi model bagi orang lain sekaligus menjadi pembelajar di
saat yang sama.

Menerapkan
konsep teori belajar sosial dalam komunitas juga perlu dan dapat dilakukan.
Mendorong ruang diskusi dan tanya jawab serta kolaborasi adalah hal yang
esensial untuk disepakati bersama, sehingga komunitas tak melulu menjadi ajang
pamer yang kompetitif. Budaya saling mengapresiasi setiap kemajuan yang dibuat
oleh anggota juga diharapkan dapat menjadi pendorong semangat para anggota
baru. Diskusi-diskusi seputar prinsip rasanya juga perlu terus digaungkan agar
perilaku sehat dan ramah lingkungan ini tak sekadar menjadi gaya hidup yang
salah kaprah. Salah satu fungsi teman dalam perubahan adalah sebagai model yang
memunculkan ataupun memperkuat konsistensi perilaku sehat dan ramah lingkungan.
Tanpa model yang empatik dan paham akan konsep zero waste, bisa jadi prinsip zero
waste
justru tak terpenuhi. Saya melihat hal ini terjadi. Contoh
sederhananya adalah soal membeli banyak tas-tas belanja dan wadah-wadah untuk
mengurangi pemakaian plastik bila tidak dipertimbangkan baik-baik justru dapat
meningkatkan jejak karbon pada produksi dan distribusinya. Saat ini semua orang
berlomba-lomba membeli dan memberikan tas-tas kain ini. Trend souvenir
pernikahan pun turut bergeser menjadi tas-tas ini. Tidakkah peningkatan
produksi besaar-besaran ini turut menyumbang limbah?

Sepanjang pengetahuan saya, gaya
hidup sehat dan ramah lingkungan berkaitan erat dengan kedaulatan pangan dan
sumber daya alam. Rasanya diskusi terkait hal ini juga perlu terus
dikumandangkan dan dikaitkan dengan komunitas. Kita perlu mengingat kembali
aneka kearifan lokal di negara yang kaya akan keberagaman ini. Seringkali kita
masih menemukan upaya dan gaya hidup sehat yang masih menggunakan aneka bahan
pangan yang belum banyak ada di Indonesia, misalnya membuat keju dengan rennet impor ataupun membuat kain
pembungkus dengan bees wax dari luar
negeri.  Saya pun masih menemukan ini di
beberapa toko berkonsep zerowaste
yang pernah saya datangi di beberapa daerah. Alangkah terkejutnya saya ketika
menemukan kemiri, chia seed, dan
kapulaga yang diimpor dari negara-negara lain di toko-toko ini dengan alasan
permintaan pasar. Tidakkah kita sebaiknya mengeksplorasi kembali kekayaan ragam
sumber daya kita dan mencoba menerapkannya dalam gaya hidup ini? Bukankah itu
yang menjadi salah satu prinsip zero waste?
Menggunakan apa yang ada di sekitarmu.
 

Ada banyak kekayaan alam dan budaya yang dapat dieksplorasi, dan itulah
salah satu fungsi komunitas, di mana kita bisa saling bertukar informasi.
Berbagi peran dan barter menjadi bagian penting dalam komunitas. Misalnya,
mungkin tak perlu semua orang belajar membuat sabun ataupun keju sebagaimana
tren belakangan ini. Bisa saja tak semua orang punya waktu dan kesabaran untuk
melakukannya. Dan tak semua orang juga dapat berkebun dengan segala
keterbatasan, terutama di kota besar. Di sinilah kearifan lokal kita yaitu
budaya gotong royong berperan. Paling tidak, inilah yang saya dan kedua kawan
saya biasa lakukan.Misalnya saya yang memang sedang tertarik pada tanaman yang
dapat diolah jadi makanan menukar biji maupun aneka hasil kebun dengan sabun
buatan kawan yang memang sedang tertarik mempelajari pembuatan sabun.

Sabun ditukar dengan bunga telang

 

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengapresiasi
mereka yang sudah menunjukkan bahwa gaya hidup sehat dan ramah lingkungan ini
dapat dilakukan secara bertahap dengan seru dan menyenangkan, walaupun tetap
serius dan dilakukan dengan tujuan mulia. Mereka inilah model yang rasanya
dapat mendorong munculnya kesadaran akan pentingnya perilaku yang sama pada
orang lain, baik yang belum memiliki pengetahuan akan hal ini maupun yang baru
memulai. Semoga semakin banyak model seperti ini yang menjadi “Teman dalam
Perubahan” bagi  banyak orang.

TIPS CARA PRAKTIS AGAR CEPAT MENGANTUK

Tips Cepat Mengantuk Saya termasuk salah satu orang yang susah ngantuk, bahkan kadangkala walaupun merasa ngantuk belum tentu kita langsung tertidur lelap. Kondisi ini tentunya kurang baik karena besok kita dituntut harus bangun pagi-pagi kalau tidak mau kesiangan ke...

TIPS BELANJA ANEKA OLEH-OLEH SAAT TOUR

Tips Belanja Oleh-Oleh Salah satu tradisi di masyarakat kita yang sering dilakukan saat liburan adalah melakukan perjalan/rekreasi baik bersama keluarga, teman kantor maupun para sahabat. Mungkin dari kita pernah melakukan perjalanan/Tour/Rekreasi dengan menggunakan...

TIPS CARA CERDAS MENGAMANKAN AKUN SOSIAL MEDIA

Beragam Akun Sosial Media Saat ini banyak kita lihat bahkan kita alami sendiri dimana masih banyak pengguna sosial media khususnya Facebook dan Twitter yang resah karena akunnya di hack oleh orang lain. Kondisi ini terjadi bisa karena kelalai kita atau atau niat jahat...

TIPS CARA CEPAT MENINGKATKAN TRAFIK PENGUNJUNG TOKO ONLINE

Tips Toko Online Salah satu tujuan membuka toko online adalah terjadinya penjualan atau barang yang dijual laku. Sama halnya dengan toko real, pengunjung adalah kunci terjadinya penjualan. Mempunyai toko online tanpa pengunjung tentu hal itu hanya sia-sia. Mana...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *