[OPINI] REVOLUSI DIRI ADALAH REVOLUSI DUNIA

Pada jaman
modern ini, dunia sedang berubah dan berevolusi dengan semakin cepat. Di
negara-negara tertentu, mayoritas orang telah dapat hidup bersama tanpa
diskriminasi ras atau warna kulit. Kesetaraan gender semakin dapat terlihat pada berbagai aspek kehidupan.
Senioritas dan bullying semakin
dipandang sebagai sikap yang melanggar martabat luhur manusia. Hal-hal seperti
ini jauh lebih sulit kita temukan bila kita menghitung mundur 50-100 tahun ke
belakang.
Baik pada
lapisan yang luas maupun kecil, perubahan yang terjadi adalah sebuah bagian
alami dari proses evolusi makhluk-makhluk yang menghuninya. Dalam tataran hidup
manusia, perubahan kesadaran menyebabkan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru
yang membuat kita semakin merenungkan batasan diri kita. Sebuah perenungan yang
muncul semakin kuat dan menjadi relevan pada saat ini adalah tentang cara hidup
kita yang mempengaruhi kehidupan lain di bumi, yang secara tidak langsung juga
memengaruhi keberlanjutan jangka panjang kehidupan manusia. Pada sisi lain,
kita juga sedang merenungkan tentang orientasi seksual seseorang, dimana kita
diajak untuk mendobrak kepercayaan lama bahwa jenis kelamin tertentu pasti
memiliki orientasi seksual tertentu.
Secara terus
menerus, kita ditantang untuk mengalami transformasi kesadaran secara komunal.
Pada saat ini, perkembangan teknologi semakin menghubungkan seluruh pelosok
dunia. Teknologi tidak hanya menghubungkan orang, namun juga informasi. Segala
macam hal yang disembunyikan menjadi jauh lebih mudah terungkap. Dan ketika
terungkap, penyebarannya terjadi secara cepat dan masif.
Keterhubungan
ini menjadi sarana yang semakin efektif untuk pihak-pihak yang hendak membawa
pembaharuan kesadaran. Kita dapat melihat Greta Thunberg, seorang remaja yang
dalam waktu singkat dikenal oleh dunia – hingga mendapat nominasi penghargaan
Nobel bidang perdamaian – hanya dengan membuat protes sederhana mengenai
pemanasan global dengan duduk diam setiap harinya di depan gedung parlemen
Swedia. Dengan namanya yang menjadi besar, ia mengundang berbagai macam
perhatian dari seluruh dunia. Ia menjadi tamu pada saluran-saluran TV besar di
dunia, menjadi sampul majalah-majalah ternama, hingga berbicara pada konferensi
aksi iklim PBB. Semua publisitas ini secara tidak langsung ikut menyebarkan
pesannya tentang pemanasan global.

Greta Thunberg (16), aktivis lingkungan hidup,
sedang berbicara pada pembukaan UN
Climate Action Summit 2019
(Sumber: news.un.org)
Tidak hanya
untuk pihak yang hendak menciptakan transformasi, teknologi juga digunakan oleh
banyak orang yang masih kolot dengan kepercayaan dan cara hidup yang lama.
Maka, tarik menarik antara orang-orang yang ingin membawa perubahan dengan
orang-orang yang tidak menginginkan perubahan juga terjadi dengan semakin
keras.

Beberapa contoh serangan yang dilancarkan oleh
orang-orang pemegang posisi politik terhadap gerakan yang dilakukan oleh Greta
Thunberg (Sumber: people.com, twitter.com)
Untuk kita
yang memperjuangkan perubahan-perubahan pada aspek dan tataran yang
berbeda-beda, bergesekan dengan orang-orang yang tidak mau berubah juga adalah
sebuah keniscayaan. Di sisi lain, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan
perjuangan ini akan berbuah. Maka, terkadang kita mungkin merasa seperti
berjalan di tempat, tanpa hasil apapun. Konflik-konflik yang terjadi kadang
membuat kita semakin lelah. Kolotnya orang-orang yang tidak ingin berubah
menjadi kepahitan, menciptakan ketegangan sendiri di dalam diri kita. Tanpa
sadar, kita yang seharusnya menawarkan perubahan ke arah yang lebih baik malah
ikut menjadi kaum yang kolot. Perjuangan kita juga berubah menjadi bentuk
pemaksaan lain terhadap orang-orang.
Katalis
Perubahan yang Prematur


Tidak ada
orang yang menyukai perubahan, terutama jika perubahan tersebut menuntut mereka
untuk meninggalkan kenyamanan mereka. Meninggalkan hidup lama yang disukai
seakan menjadi sebuah kematian untuk orang banyak. Bukti yang mudah kita
temukan adalah betapa banyaknya orang (mungkin diri kita sendiri juga
mengalaminya pada titik tertentu) yang tidak dapat mendisiplinkan pola makan
dan olah raganya sebagaimanapun ia tahu bahwa ia perlu menurunkan berat badan
dan menyehatkan tubuhnya. Barangkali contoh seperti ini terlihat sangat
sederhana, tetapi ini melambangkan banyak aspek kehidupan manusia.
Manusia
berevolusi dengan hasrat mendasar berupa rasa aman. Berbagai macam habit tercipta sebagai bagian dari
respon hasrat tersebut. Tubuh membiasakan dirinya dengan beradaptasi untuk
merasa aman dan nyaman. Untuk melawannya, pikiran sadar yang membuat berbagai
macam rasionalisasi memang berguna. Akan tetapi, karena dorongannya kurang kuat
atau kurang konsisten, habit yang
telah terbangun sulit untuk digoyahkan. Ditambah dengan sikap-sikap egosentris
yang mempunyai berbagai macam agenda tersembunyi, sang ego akan merasa
dirugikan pada berbagai tingkat. Maka dari itu, penolakan terhadap perubahan
bisa menjadi semakin kuat tergantung pada orangnya.
Untuk kita
yang hendak membawa perubahan yang lebih baik ke dalam dunia, tentu mudah untuk
melihat ini pada diri orang-orang yang kaku dan kolot pada pendirian lama
mereka. Akan tetapi, apakah kita telah mempertimbangkan bahwa hal-hal ini
terjadi juga pada diri kita? Apakah kita telah memastikan bahwa sambil kita
berjuang menjadi agen perubahan, kita juga terus memperbaharui sistem-sistem
lama pada diri kita yang dapat menghalangi kita melakukan pekerjaan yang
efektif dan maksimal?
Setiap orang
memiliki preferensi dan selera masing-masing. Apa yang anda sukai belum tentu
saya sukai, dan sebaliknya. Untuk anda, mengubah diri pada aspek A barangkali
mudah. Akan tetapi, hal yang sama belum tentu berlaku pada diri saya. Sama
halnya, saya dapat mengubah cara pandang dengan lebih ringan pada aspek B,
sedangkan anda tidak. Variasi ini tercipta pada setiap orang berdasarkan cara
hidupnya yang dibangun bertahun-tahun lewat pemikirannya, lingkungan keluarga,
masyarakat, agama, dan lain-lain.
Tanpa memahami
betapa sulitnya mengubah diri kita pada aspek tertentu, kita tidak benar-benar
memiliki kemampuan untuk mengubah orang pada aspek yang mudah untuk kita. Kita
perlu memahami dengan jelas betapa tidak enaknya ketika kita dipaksa untuk
berubah pada titik yang tidak kita sukai. Kemudian, kita perlu melihat bahwa
banyak orang tidak suka untuk berubah pada sisi yang kita tawarkan. Kita hanya
dapat memiliki kedewasaan untuk menyikapi berbagai macam respon yang datang
ketika kita memiliki kemampuan untuk melihat dinamika ini dengan sangat jelas.
Kesadaran Diri
Sebagai Sumber Kekuatan Utama


Walaupun
penemuan tentang nilai-nilai yang lebih luhur terjadi secara pribadi, penemuan
itu tidak melulu datang bersama kesadaran diri yang tinggi pula. Terjadinya
pembaharuan pada cara pandang kita terhadap sebuah aspek kehidupan seringkali
datang secara terpisah dengan pemahaman untuk menyikapinya dengan paling
efektif. Ketika perjuangan ini dilakukan dengan ketidakmatangan diri, pada
suatu titik kita akan merasa kelelahan apabila apa yang diperjuangkan tampak
tidak berbuah. Fenomena yang diberi nama activism
fatigue
atau activism burnout ini
sering terjadi pada berbagai jenis aktivis sosial yang saat ini sering dikenal
dengan Social Justice Warrior (SJW).

Cuplikan artikel mengenai activism
fatigue
atau activism burnout,
fenomena di mana para aktivis sosial mencapai titik jenuh ketika apa yang
diperjuangkan tidak menunjukkan hasilnya (sumber: vice.com)
Walaupun activism fatigue ini ditemukan akibat
banyaknya SJW yang mengalami hal tersebut, sebenarnya hal ini juga kita alami
ketika berusaha mengubah bahkan orang-orang terdekat seperti keluarga dan
teman. Kita dapat mengingat sendiri seberapa banyak momen di mana kita merasa
lelah dan heran ketika sahabat dan/atau keluarga kita tidak dapat memahami apa
yang kita katakan. Inilah yang sangat penting untuk kita perhatikan; hal ini
terjadi di berbagai lapisan, walau menjadi semakin terlihat pada skala yang
lebih masif. Jika demikian, kita dapat mengatakan bahwa bibit penyakit ini
dimiliki oleh jauh lebih banyak orang dari yang terlihat saat ini.
Segala rasa
lelah, stres, dan frustrasi ini tidak pernah disebabkan oleh hasil yang tidak
memuaskan. Selayaknya, sebelum mengusahakan perubahan, kita telah memahami
bahwa banyak orang sulit berubah secara instan. Maka dari itu, menginvestasikan
kepuasan dan kebahagiaan kita pada keberhasilan pekerjaan kita bukanlah sesuatu
yang bijak. Ketika kita menempatkan kebahagiaan pada keberhasilan perjuangan
yang kita lakukan, secara otomatis kita juga sedang mempersiapkan diri untuk
menderita ketika tidak mencapai keberhasilan yang diimpikan.
Bukan
merupakan rahasia bahwa manusia yang bahagia secara otomatis menjadi lebih
produktif. Maka, dengan mengamati betapa mudahnya kita meletakkan kebahagiaan
kita pada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, kita perlu mencari jalan
lain agar segala macam pekerjaan kita menjadi lebih efektif. Tentunya, jalan
terbaik yang dapat diambil adalah agar kita dapat tetap menghargai diri sendiri
dan apa yang kita perjuangkan tanpa terpengaruh tanggapan orang lain. Sumber
penghargaan terhadap diri sendiri adalah pemahaman diri, dan pemahaman diri
timbul sebagai produk dari kesadaran diri yang tinggi.
Pemahaman diri
dan kesadaran diri berbeda dari kepribadian, kelebihan, kekurangan, dan
sebagainya yang kita miliki. Seperti tubuh yang terus berubah, aspek-aspek yang
kita miliki ini juga terus berubah dari waktu ke waktu. Jika terus berubah,
kita tidak dapat benar-benar menjadikan mereka sebagai pegangan hidup. Ketika
mereka berubah, kita menjadi kehilangan pegangan dan menjadi goyah kembali.
Maka, walaupun termasuk, mereka hanya mengisi bagian yang sangat kecil dari
diri kita yang sesungguhnya.
Menemukan Diri
yang Sebenarnya


Diri yang
sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat esensial dalam menyokong keberadaan
diri kita. Jati diri kita penuh dengan kemungkinan yang tak terbatas. Jati diri
inilah yang menyadari perubahan segala macam hal, bahkan hingga perubahan sifat
dan kepribadian kita dari waktu ke waktu. Diri yang sesungguhnya mengetahui
segala kebenaran dan kenyataan, bahkan yang kita sembunyikan di lubuk hati
terdalam; namun tetap tidak tercemar sama sekali oleh semuanya itu.
Penemuan akan
diri yang sebenarnya sangatlah sederhana. Ini disebabkan karena diri yang
sejati tidak pernah terpisah sama sekali dari diri kita. Akan tetapi, tantangan
utama bagi orang-orang untuk menyadari realitasnya adalah macam-macam label
akan berbagai hal yang sering kita percayai.
Pikiran kita
begitu terbiasa untuk mengenali segala hal dengan deskripsi label yang sudah
ditetapkan, baik oleh diri sendiri, orang tua, lingkungan, tradisi, dan
lain-lain. Akibatnya, kita hanya melihat segala hal secara satu dimensi.
Walaupun label-label ini berguna sebagai pengingat dan dalam berkomunikasi, ini
menjadi penghalang besar ketika kita mencoba melihat keseluruhannya. Oleh
karena itu, diri yang sesungguhnya – yang tidak tercemar oleh apapun – perlu
ditemukan dalam keheningan total.
Keheningan
berarti bahwa kita terlepas dari berbagai macam kesibukan pikiran kita.
Keheningan berbeda dari tidak berpikir. Untuk menghilangkan pikiran, kita perlu
menghentikan kerja otak, yang berarti sama dengan mematikan seluruh tubuh. Akan
tetapi, keheningan adalah kondisi di mana kita tidak terlibat sama sekali
dengan pikiran-pikiran yang lewat. Kita seakan berjarak dari pikiran dan tidak
terpengaruh sama sekali olehnya. Kita bahkan tidak perlu mengamati pikiran,
melainkan hanya mengizinkan apapun lewat dengan sendirinya. Kita hanya berada
dan menetap pada “kekosongan” yang tersisa. Jika kita cukup memperhatikan,
bahkan sejenak saja sudah cukup untuk kita menemukan realitas dari esensi diri
yang jauh lebih luas dari yang kita bayangkan sebelumnya.
Ketika kita
menemukan esensi sesungguhnya dari diri kita, akan terjadi transformasi pada
cara pandang, pemahaman, hingga cara menyikapi segala macam situasi. Hal ini
dikarenakan sebuah realitas yang sebelumnya seakan tertutupi menjadi tersingkap
dengan amat jelas. Maka dari itu, apapun yang tidak melambangkan kesejatian
diri kita juga akan dengan mudah kita kenali.
Cara pandang
kita terhadap dunia mengindikasikan cara pandang kita terhadap diri sendiri.
Saat kita menemukan realitas yang sesungguhnya dari keberadaan diri kita,
seketika dunia juga terlihat berbeda. Pada saat yang sama, muncul sebuah
kesadaran baru. Setelah itu, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang dapat
mengambil kekuatan kita. Kita telah menemukan sumber kekuatan sejati.
Revolusi Diri
adalah Revolusi Dunia


Tentunya
segala hal ini bukanlah dibuat untuk menentang berbagai macam bentuk perjuangan
untuk meningkatkan kualitas kehidupan bersama. Saya secara pribadi adalah orang
yang mendukung berbagai gerakan kemanusiaan di dunia. Dalam
tulisan ini, saya hanya ingin memberikan
perhatian lebih pada betapa
banyaknya orang yang mudah merasa kelelahan dan terhenti di tengah perjuangan
mereka.
Artikel ini
juga tidak ingin mengatakan bahwa kita tidak seharusnya melakukan berbagai
gerakan perubahan. Yang saya ingin katakan adalah jika kita memiliki tingkat
kesadaran yang tinggi, maka kita dapat melakukan gerakan perubahan yang sama
tanpa beban yang besar. Dengan tidak membawa beban yang besar, banyak dari
kekuatan kita dapat disalurkan untuk memberikan dampak yang lebih besar lagi.
Bayangkan apa
yang dapat terjadi jika seluruh pejuang keadilan dan kehidupan memiliki daya
yang tidak terbatas. Daya ini bukan hanya untuk berkarya dan bersuara, juga
termasuk daya kreativitas dalam menyampaikan pesan-pesan mereka. Bayangkan
seberapa efektifnya perjuangan yang akan dilakukan dan seberapa kuatnya dampak
yang akan dihasilkan dibandingkan jika orang melakukannya dengan kelelahan.
Revolusi
tertinggi di dunia dimulai ketika terjadi revolusi diri. Dan revolusi diri
tertinggi terjadi ketika orang menemukan diri yang sejati.

TIPS CARA PRAKTIS AGAR CEPAT MENGANTUK

Tips Cepat Mengantuk Saya termasuk salah satu orang yang susah ngantuk, bahkan kadangkala walaupun merasa ngantuk belum tentu kita langsung tertidur lelap. Kondisi ini tentunya kurang baik karena besok kita dituntut harus bangun pagi-pagi kalau tidak mau kesiangan ke...

TIPS BELANJA ANEKA OLEH-OLEH SAAT TOUR

Tips Belanja Oleh-Oleh Salah satu tradisi di masyarakat kita yang sering dilakukan saat liburan adalah melakukan perjalan/rekreasi baik bersama keluarga, teman kantor maupun para sahabat. Mungkin dari kita pernah melakukan perjalanan/Tour/Rekreasi dengan menggunakan...

TIPS CARA CERDAS MENGAMANKAN AKUN SOSIAL MEDIA

Beragam Akun Sosial Media Saat ini banyak kita lihat bahkan kita alami sendiri dimana masih banyak pengguna sosial media khususnya Facebook dan Twitter yang resah karena akunnya di hack oleh orang lain. Kondisi ini terjadi bisa karena kelalai kita atau atau niat jahat...

TIPS CARA CEPAT MENINGKATKAN TRAFIK PENGUNJUNG TOKO ONLINE

Tips Toko Online Salah satu tujuan membuka toko online adalah terjadinya penjualan atau barang yang dijual laku. Sama halnya dengan toko real, pengunjung adalah kunci terjadinya penjualan. Mempunyai toko online tanpa pengunjung tentu hal itu hanya sia-sia. Mana...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *